Siapa Ebrahim Rasool? Duta Besar Muslim Afrika Selatan yang digunakan Diusir Negeri Paman Sam oleh sebab itu Membenci Trump kemudian Anti-Israel

WASHINGTON – Menteri Luar Negeri Negeri Paman Sam Marco Rubio mengungkapkan duta besar Afrika Selatan untuk Washington, Ebrahim Rasool, “tidak lagi diterima” di tempat Amerika Serikat.
Rubio, pada sebuah posting ke X, juga menuduh diplomat Ebrahim Rasool sebagai “politisi yang tersebut menghasut tentang ras” yang mana membenci Presiden Negeri Paman Sam Donald Trump.
Dalam postingannya, Rubio menautkan ke sebuah artikel dari media konservatif Amerika Serikat Breitbart, yang mana mengomentari pernyataan Rasool pada hari hari terakhir pekan selama webinar lembaga pemikir Afrika Selatan.
Menurut Breitbart, Rasool mengungkapkan bahwa supremasi dermis putih memotivasi “rasa tiada hormat” Trump terhadap “tatanan hegemonik pada waktu ini” di tempat dunia.
Siapa Ebrahim Rasool? Duta Besar Muslim Afrika Selatan yang tersebut Diusir Negeri Paman Sam dikarenakan Membenci Trump dan juga Anti-Israel
1. Afrika Selatan Kecewa dengan Pengusiran Rasool
Melansir DW, Kepresidenan Afrika Selatan mengumumkan langkah untuk mengusir Rasool sebagai langkah yang dimaksud “disesalkan” juga mendesak semua pemangku kepentingan untuk menjaga kesopanan diplomatik.
“Kepresidenan mendesak semua pemangku kepentingan yang digunakan relevan kemudian terdampak untuk menjaga kesopanan diplomatik yang digunakan telah terjadi ditetapkan pada keterlibatan mereka itu dengan kesulitan ini,” katanya di sebuah pernyataan di dalam media sosial, seraya menambahkan bahwa negara itu tetap memperlihatkan berikrar pada hubungannya dengan Amerika.
2. Diplomat Berpengalaman yang tersebut Anti-Israel
Rasool adalah diplomat veteran yang mana sebelumnya menjabat sebagai duta besar negaranya untuk Negeri Paman Sam dari tahun 2010 hingga 2015 selama pemerintahan Obama.
Kembalinya Rasool ke Washington pada bulan Januari telah menjadi kontroversi sebab advokasinya yang anti-Israel.
Baca Juga: Proposal Mesir untuk Daerah Gaza 2030 Persatukan Negara-negara Arab
3. Selalu Membela Rakyat Palestina
Seorang Muslim, Rasool telah dilakukan menjadi kritikus vokal Israel, mengatakan perlakuannya terhadap warga Palestina pada Kawasan Gaza sebagai “genosida” serta menuduhnya melakukan apartheid. Dia adalah pendukung terkemuka untuk perkara Afrika Selatan terhadap tanah Israel dalam Mahkamah Internasional.
Sebelum unggahan Rubio di area X, situs berita Semafor Africa sudah pernah melaporkan bahwa Rasool “berjuang untuk mengamankan rapat penting di dalam Washington” dengan para pejabat di dalam Departemen Luar Negeri juga tokoh-tokoh penting Partai Republik.
4. Pernah Jadi Korban Sistem Apartheid di dalam Afrika Selatan
Sebagai korban sistem apartheid Afrika Selatan, Rasool menjadi juru kampanye anti-apartheid yang tersebut aktif, menjalani hukuman di area penjara juga mengidentifikasi dirinya sebagai kawan presiden pertama pasca-apartheid negara itu, Nelson Mandela.
Dia kemudian menjadi politisi di area partai kebijakan pemerintah Kongres Nasional Afrika milik Mandela.
5. Memicu Ketegangan Negeri Paman Sam kemudian Afrika Selatan
Apa hambatan pemerintahan Trump dengan Afrika Selatan? Pengusiran duta besar, sebuah langkah yang tersebut sangat tiada biasa oleh Amerika Serikat, adalah perkembangan terbaru di meningkatnya ketegangan antara pemerintahan Trump lalu Afrika Selatan.
Pada bulan Februari, Trump membekukan bantuan Amerika Serikat ke Afrika Selatan dengan mengutip sebuah undang-undang dalam negara itu yang mana menurutnya memungkinkan tanah dirampas dari petani epidermis putih. Presiden Negeri Paman Sam menuduh Afrika Selatan berusaha mencapai petani dermis putih minoritas dengan undang-undang baru yang digunakan memungkinkan pemerintah untuk merampas tanah pribadi.
Miliarder kelahiran Afrika Selatan Elon Musk, salah satu pendukung terbesar Trump, secara terbuka menuduh pemerintah Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mempunyai “undang-undang kepemilikan rasis.”
Pemerintah Afrika Selatan telah lama membantah undang-undang barunya terkait dengan ras kemudian menyatakan klaim Trump penuh dengan misinformasi dan juga distorsi yang disebarkan oleh kaum nasionalis dermis putih.
Hampir semua negara di tempat seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, mempunyai undang-undang perampasan mirip yang mana memungkinkan pemerintah untuk memperoleh tanah untuk keinginan publik, termasuk jalan, sekolah, juga infrastruktur rakyat lainnya.






