Inisiatif DKI membudayakan ASN untuk bertransportasi umum

DKI Jakarta – Rabu terakhir di bulan April 2025 berbeda dengan hari yang dimaksud mirip pekan sebelumnya, bulan sebelumnya, kemudian bahkan tahun sebelumnya.
Rabu ini menandai langkah nyata baru eksekutif Provinsi DKI Ibukota Indonesia untuk menghurangi kemacetan dengan membudayakan seluruh pegawainya bertransportasi umum.
Pegawai diwajibkan menaiki transportasi umum baik itu KRL, MRT Jakarta, LRT Jakarta, maupun mikrotrans pada waktu berangkat kerja, bertugas dinas lalu pulang ke rumah masing-masing.
Sebagai bukti, mereka itu harus mengirim swafoto disertai informasi lokasi, waktu, dan juga tanggal pengambilan foto. Foto yang disebutkan kemudian dikirimkan untuk admin kepegawaian melalui media yang mana ditentukan, sesuai mekanisme di perangkat tempat masing-masing.
Lalu, di pelaksanaannya, setiap admin kepegawaian Gadget Daerah (PD) maupun Unit Kerja Alat Daerah (UKPD) harus melakukan rekapitulasi dan juga verifikasi foto sesuai data pegawai, dikurangi pegawai yang dimaksud mendapat diskresi sesuai ketentuan.
Laporan yang disebutkan kemudian dikirim terhadap pimpinan PD untuk diverifikasi, kemudian disampaikan untuk Pemimpin wilayah DKI DKI Jakarta melalui Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, dengan tembusan terhadap Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI Jakarta.
Aturan ini tertuang di Instruksi Pengelola DKI Ibukota Indonesia Nomor 6 Tahun 2025 yang dimaksud ditandatangani Kepala daerah Jakarta, Pramono Anung, pada 23 April 2025. Tujuannya, untuk membantu kebijakan pengurangan polusi juga konstruksi berkelanjutan, dan juga mewujudkan tata kelola pemerintahan yang digunakan peduli lingkungan dan juga mengupayakan mobilitas hijau.
Aturan menggunakan transportasi umum ini dikecualikan bagi pegawai yang digunakan sedang pada keadaan sakit, hamil, atau bertugas sebagai personel lapangan dengan mobilitas tertentu.
Media sosial berubah-ubah instansi pemerintah pun semarak dengan kolase swafoto para pegawai masing-masing. Pemuka Ibukota Indonesia Pramono Anung kemudian Wakil Pengelola DKI Jakarta Rano Karno pun mengambil bagian juga meramaikan Rabu bertransportasi umum dalam Jakarta. Kedua mengunggah foto pada waktu menaiki angkutan umum.
Pramono menggunakan bus listrik Transjakarta 4C dari rumah dinas menuju sebuah hotel di dalam kawasan Matraman, Ibukota Timur untuk hadir di sebuah acara. Dia sempat melakukan transit dan juga menaiki Bus Transjakarta 5M menuju Halte Matraman.
Sementara itu, Rano memilih layanan Moda Raya Terpadu (MRT) dari Stasiun Lebak Bulus, dilanjutkan bus Transjakarta menuju balai kota untuk hadir di acara yang tersebut diadakan Dinas Bidang Kesehatan DKI Jakarta.
Dia mempertimbangkan naik angkutan umum tiga kali sepekan atau tiga kali lipat tambahan berbagai dibandingkan aturan yang tersebut tetapkan bagi pegawai di dalam lingkungan Pemprov DKI Ibukota Indonesia yakni satu kali seminggu.
Ini lantaran pria yang tersebut akrab disapa Bang Doel itu ingin tubuhnya lebih tinggi kurus dari sekarang. Ini adalah juga berubah jadi saran Menteri Aspek Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk Rano.
Kata Menkes, Rano sebaiknya naik transportasi umum lima kali sepekan agar berat badannya turun. Karena ketika menaiki angkutan umum, Wagub sanggup lebih banyak sejumlah berjalan kaki.
Cerita bertransportasi umum di dalam DKI Jakarta Rabu ini juga diwarnai aksi nakal oknum-oknum tertentu. Pegawai di salah satu instansi mengungkapkan punya cara mengakali aturan.
Aragon misalnya, yang digunakan mengendarai kendaraan beroda dua motor dari rumahnya berikutnya memarkirkan kendaraan di dekat kantornya. Dari sana, ia menaiki mikrotrans hingga kompleks kantor. Saat menaiki mikrotrans, Aragon melakukan swafoto seperti ketentuan.
Ia beralasan, perlu waktu tambahan lama menuju kantor bila menggunakan kendaraan umum dibandingkan kendaraan beroda dua motor. Hal ini lantaran waktu kedatangan armada yang mana cukup lama. Dia juga tak terbiasa menaiki angkutan umum.
Tapi lain Aragon, lain juga dengan Yuri. Pegawai pada salah satu BUMD Ibukota Indonesia itu justru sudah ada tambahan dari satu dekade bepergian dengan angkutan umum di antaranya menuju kantornya di dalam kawasan Ibukota Selatan.
Dia mengaku akrab dengan transportasi umum khususnya Transjakarta. Yuri menanamkan hal positif ketika bertransportasi umum di Jakarta. Dia membayangkan naik bus seperti pengalaman sewaktu berada dalam Seoul, Korea Selatan.
Yuri merasa terbantu bila layanan transportasi yang dimaksud beliau gunakan sehari-hari bisa saja semakin meningkat kualitasnya, di antaranya armada kemudian ketepatan waktu. Sebagai pekerja, ia merasa ketepatan waktu juga ketersediaan armada berubah menjadi dua hal pokok bagi sebuah angkutan umum. Ini adalah jualah yang nantinya berubah menjadi magnetik untuk pengguna kendaraan pribadi mau beralih ke transportasi publik.

Angin positif
Aturan pegawai dalam lingkungan Pemprov DKI bertransportasi umum memang sebenarnya baru sehari. Namun, ada optimisme pada aturan ini.
Ki Darmaningtyas, pengamat transportasi sekaligus Ketua Institut Studi Transportasi (INSTRAN), berpendapat apabila ada 70 persen ASN di DKI yang patuh menggunakan transportasi umum setiap Rabu, maka hal itu signifikan pada menghurangi jumlah kendaraan pribadi yang tersebut masuk ke Ibukota Indonesia di sehari.
Berkaca pada penerapan kebijakan sistem bekerja dari rumah (work from home/WFH) bagi 50 persen ASN Pemprov DKI Ibukota Indonesia tahun 2023 saja, data Dinas Perhubungan DKI Ibukota Indonesia menunjukkan, rata-rata besar kemudian lintas selama WFH ASN Pemprov DKI Ibukota sebesar 6.800.992 kendaraan per hari atau turun 0,63 persen (turun 42.846 kendaraan per hari).
Sementara merujuk data BKD Provinsi DKI Ibukota tahun 2025, jumlah total ASN di dalam DKI bulan Februari 2025 berjumlah 46.138 warga atau tambahan berbagai dibandingkan bulan Januari yaitu 46.404 orang.
Bisa dibayangkan bila 70 persen dari dia yang tersebut menggunakan kendaraan pribadi ini beralih ke transportasi umum, berapa kendaraan yang mana masuk Ibukota mampu dikurangi.
Dapat dikatakan, aturan ini memaksa merekan yang digunakan sebelumnya tak pernah menggunakan kendaraan umum untuk naik transportasi umum. Walau pemaksaan, tetapi ada cerita positif. Terutama bagi yang pertama kali menggunakan kendaraan umum.
Seorang ASN yang mana bertugas di Dinas Penanggulangan Kebakaran juga Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Ibukota Indonesia menyatakan sehari-hari menggunakan kendaraan beroda dua motor menuju kantor di dalam kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Ibukota Indonesia Selatan.
Kali ini ia menggunakan bus Transjakarta dari arah Ciputat, Tangerang Selatan. Darmaningtyas menaiki armada yang tersebut sebanding dengan pemuda itu dan juga melihatnya kelimpungan melakukan tap kartu uang elektronik.
Tapi, si pemuda mengaku dapat beristirahat selama perjalanan yang kurang lebih tinggi memakan waktu 30 menit. Nikmatnya tidur di dalam perjalanan tak pernah beliau rasakan sewaktu berkendara sepeda gowes motor sendirian.
Cerita asyiknya berkendara umum memang sebenarnya belum dirasakan Aragon. Bisa jadi lantaran layanan kendaraan umum dalam lingkungannya belum seoptimal si tim Damkar.
Menurut Darmaningtyas, edukasi pada sosok seperti Aragon bermetamorfosis menjadi kunci. Aragon punya kontribusi mengempiskan kemacetan sekaligus menurunkan polusi udara dengan patuh bertransportasi umum.
Dan mungkin, dibutuhkan waktu setidaknya setiap tahun untuk menghasilkan warga Ibukota Indonesia terbiasa dengan angkutan umum. Tetapi ini asalkan mereka merasakan naik transportasi umum senyaman lalu aman.
Lalu, dengan semakin sejumlah pendatang naik angkutan umum, ini tak berarti mengharuskan armada kendaraan umum ditambah akibat penumpang yang ada masih sanggup terangkut. Tetapi ini berubah menjadi opsi bila Pemprov DKI ingin menggerakkan semakin banyak warga Ibukota menggunakan transportasi umum.
Di sisi lain, Darmaningtyas merasa kebijakan sehari bertransportasi umum harus diadopsi ASN di dalam tingkat kementerian dan juga bergantian menerapkannya.
Di Hari Senin, misalnya khusus untuk pegawai Kementerian Perhubungan, Selasa untuk Kementerian Pekerjaan Umum, lalu seterusnya. Jadi, setiap hari ada kewajiban pegawai sama-sama atasannya menggunakan angkutan umum.
Saat ini, terlalu dini menganggap efektivitas aturan pegawai ke DKI naik transportasi umum khususnya untuk menurunkan kemacetan kemudian meningkatkan kualitas udara Jakarta. Tapi, setidaknya, mengutip pernyataan Darmaningtyas, hari ini lumayan.
Pembelajaran hari ini memang benar memaksa ASN di dalam wilayah DKI menggunakan angkutan umum. Harapannya, apabila santai hari ini, maka besok mengulang lagi hal sama.
Artikel ini disadur dari Inisiatif DKI membudayakan ASN untuk bertransportasi umum






