Urusan sanksi Yuran Fernandes, LIB tak ingin terlibat campur

DKI Jakarta – Direktur Utama PT Kompetisi Indonesia Baru (LIB) Ferry Paulus mengaku pihaknya tak ingin mengambil bagian campur di urusan sanksi yang tersebut diterima pemain PSM Makassar Yuran Fernandes yang tersebut dijatuhi hukuman 12 bulan kemudian denda Rp25 jt dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI.
Yuran mendapat sanksi itu setelahnya memberikan komentar pedas pada media sosialnya terhadap kualitas sepak bola Indonesia setelahnya PSM menelan kekalahan 1-3 berjuang melawan PSS Sleman ke Stadion Maguwoharjo pada 3 Mei lalu.
"Kalau dari sisi LIB, tindakan hukum seperti Yuran ini juga terbentuk ke persoalan hukum sebelumnya seperti Bojan Hodak atau Paul Munster. Termasuk juga isu-isu tentang komunikasi jelek oleh pemilik klub, kami ungkapkan semua itu ke Komdis PSSI," ujar Ferry sewaktu ditemui awak media pada acara jumpa pers pada Kantor PT LIB, Senayan, Ibukota Indonesia Selatan, Kamis.
"Karena Komdis ini badan independen, yang mana saya tahu hasilnya bahwa instruktur itu diberi peringatan keras keras. Tapi Yuran ini saya juga bukan tahu deskripsinya apa persoalan 12 bulan itu," tambah dia.
"Dari sisi liga, kami bukan punya wewenang apa-apa untuk berkomentar dikarenakan ini ranah dari Komdis. Yang pasti semua pelanggaran yang ditabulasi dikirim ke Komdis PSSI," lanjut dia.
Hukuman itu sudah berlaku juga menciptakan Yuran melewatkan laga menghadapi Malut United di Stadion BJ Habibie pada Hari Sabtu (10/5). Adapun, Juku Eja musim ini masih menyisakan dua laga lagi menuju akhir musim. Dua laga itu adalah berperang melawan Barito Putera serta Persita Tangerang.
Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) menolak juga mengaku sangat keberatan dengan sanksi yang diberikan terhadap Yuran.
Vice President APPI Achmad Jufriyanto mengutarakan komentar Yuran ke media sosialnya itu adalah murni ungkapan kekecewaan, juga seharusnya kekecewaan pemain selama Tanjung Verde yang dimaksud dapat berubah jadi refleksi bagi berbagai pihak pada sepak bola Indonesia.
Tak semata-mata APPI, asosiasi pesepak bola profesional bola atau FIFpro merasa “sangat khawatir” menghadapi sanksi keras yang tersebut diterima Yuran. Menurut FIFpro, setiap pemain sepak bola profesional miliki hak untuk menyuarakan pendapatnya.
“Kemudian komplain dari FIFpro, kami tidak ada bisa jadi komentar tentang itu. Buat kami kalau ranahnya dalam kami misalnya seperti tunggakan pendapatan akan kami respon. Karena ini dari Komdis PSSI, tak bisa saja Komdis kami ajak dialog mengenai ini. Dapurnya berbeda," kata Ferry.
Sementara itu, pada Selasa lalu, PSM sudah resmi mengajukan banding untuk Komdis PSSI. Dalam banding itu, PSM tak membenarkan komentar dari Yuran, namun dia mengkaji sanksi larangan bermain selama setahun bukan pantas diberikan.
“Memo banding untuk putusan sanksi Komdis terhadap Yuran Fernandes, sudah ada PSM Makassar kirimkan ke PSSI," kata Industri Media Officer PSM Sulaiman Abdul Karim pada informasi tertulisnya.
Artikel ini disadur dari Urusan sanksi Yuran Fernandes, LIB tak ingin ikut campur






