Nasional

Teknologi Teknologi AI Tidak Akan Menggantikan Peran Jurnalis

JAKARTA – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diyakini tidaklah akan serta-merta menggantikan peran jurnalis. Hal yang dimaksud disampaikan Plt Dirjen Komunikasi dan juga Media Massa Massa Kementerian Komunikasi kemudian Digital Molly Prabawaty .

Menurut Molly, Artificial Intelligence merupakan pembaharuan baru yang tersebut sanggup dimanfaatkan oleh jurnalis , seperti analisis data di mengidentifikasi tren, pola, juga sumber potensial. Dia menegaskan Artificial Intelligence tidaklah serta-merta menggantikan peran jurnalis.

“Dalam penyajian informasi yang tersebut kredibel, manusia jurnalis melibatkan elemen-elemen kreatif, empati, juga interpretasi manusia yang dimaksud sulit ditiru oleh teknologi,” katanya pada acara Refleksi dan juga Urun Rembug dan juga Launching Buku Kompetensi Jurnalis Televisi, yang mana diselenggarakan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) pada Hall Dewan Pers , Jakarta, Kamis (19/12/2024).

Menurutnya, jurnalis harus memulai pembangunan narasi positif di menyampaikan informasi yang dimaksud akurat, adil, transparan, sesuai dengan profesionalitas serta independensi jurnalistik dengan memanfaatkan AI.

Teknologi Teknologi AI Tidak Akan Menggantikan Peran Jurnalis

Sementara, Ketua Dewan Pers Ninik Rahayu mengatakan, Teknologi AI tidaklah menghentikan kemungkinan sanggup menggantikan peran jurnalis. Ninik menekankan perkembangan teknologi bukan dapat dihindari serta harus bisa saja dimanfaatkan dengan baik.

“Jurnalis televisi sebagai kontrol sosial harus menjalankan fungsinya secara benar kemudian semata-mata untuk kepentingan publik,” ujarnya.

Menurut Ninik, televisi masih menjadi media media rujukan bagi rakyat untuk mendapatkan informasi. “Jurnalis televisi harus bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab,” katanya.

Tidak tergantikannya peran jurnalis oleh kecerdasan itulah yang digunakan menyebabkan IJTI meluncurkan buku Kompetensi Jurnalis Televisi, yang mana menjadi panduan bagi jurnalis televisi pada melaksanakan tugasnya.

“Buku ini akan membantu jurnalis televisi serta sanggup menjadi standar untuk menghasilkan kembali karya-karya jurnalistik televisi yang dimaksud baik,” kata Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Herik Kurniawan.

Menurutnya, jurnalis yang digunakan memiliki kompetensi, harus bisa jadi menciptakan karya jurnalistik yang dimaksud memberikan nilai kemudian kebermanfaatan bagi masyarakat. “Semoga buku yang digunakan diterbitkan IJTI bisa saja menjadi rujukan, tidak ada hanya saja bagi jurnalis televisi, tapi juga peserta didik yang tersebut mengambil peminatan jurnalistik,” katanya menambahkan.

Peluncuran Buku Kompetensi Jurnalis Televisi yang tersebut dihadiri peserta didik dari perguruan tinggi di dalam Ibukota Indonesia yang disebutkan melakukan penutupan rangkaian kegiatan IJTI dalam tahun 2024. Buku yang digunakan ditulis Rachmat Hidayat, Kepala Lembaga Uji Kompetensi Jurnalis Televisi IJTI itu, merupakan hasil evaluasi kegiatan Uji Kompetensi Jurnalis Televisi, yang dimaksud diselenggarakan IJTI pada berbagai daerah.

Buku setebal 164 halaman itu memuat tentang pemahaman Kode Etik Jurnalistik, Pedoman Perilaku Penyiaran serta Standar Inisiatif Siaran khusus Jurnalis Televisi, riset, lalu usulan berita televisi, mewawancarai narasumber, sampai cara menyusun budget acara televisi.

Related Articles

Back to top button
6789101191011121314978979980981982983151617181920345678123456tips slot online modern agar stabilitas lebih optimalstarlight princess dan pengamatan komunitas terhadap permainan mbgsugar rush dan konsep permainan slot online pragmatic play yang berwarnawild bandito dan pembahasan runtuhan dalam permainan terkini mbgsuper scatter menghadirkan kejutan instan dengan efek cepat responsifrtp live gates of olympus