Heboh Video Hasto Beredar Luas, Tuding Jokowi Dalang Pelemahan KPK

JAKARTA – Sebuah video menghebohkan beredar luas di tempat media sosial. Video berisikan Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengungkap upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang digunakan diadakan Presiden Joko Widodo ( Jokowi ).
Dalam video itu, Hasto menjelaskan, cerita ini diawali pada 7 Mei 2024 ketika mengunjungi pidato pemilihan raya juga Jalan Kebudayaan yang mana disampaikan oleh Prof Sri Sulistyowati pada Universitas Indonesia (UI). Di acara itu, Hasto mengaku bertemu dengan Novel Baswedan, Rocky Gerung, juga tokoh-tokoh civil society lainnya.
“Ketika saya bertemu dengan Mas Novel Baswedan, beliau menanyakan ke saya, ‘saya perlu konfirmasi apakah betul PDI Perjuangan yang tersebut memelopori inovasi Undang-Undang KPK yang tersebut mengkerdilkan KPK di area pada upaya pemberantasan korupsi?” kata Hasto menceritakan percakapannya dengan Novel di sebuah video yang dimaksud beredar, Hari Sabtu (22/2/2025).
Hasto mengaku memberikan jawab tegas terhadap Novel ketika itu. Hasto mengatakan, jikalau ada hal-hal yang tersebut buruk oleh Presiden Jokowi, setiap saat dilimpahkan terhadap PDIP dan juga Megawati Soekarnoputri. Namun, ketika ada hal-hal yang dimaksud positif setiap saat diambil oleh Presiden Jokowi tanpa menyisakan benefit bagi kepentingan PDI Perjuangan.
“Sebagai Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, saya komunikasikan terhadap Mas Novel Baswedan bahwa saya adalah sekjen yang mana sangat getol menjabarkan perintah Ibu Megawati Soekarnoputri bagaimana PDI Perjuangan memerangi korupsi. Karena itulah, tuduhan bahwa revisi Undang-Undang KPK diarsiteki oleh PDI Perjuangan, itu sangat salah,” ujarnya.
Dalam video itu, Hasto menyinggung ketika pertemuannya dengan Presiden Jokowi di dalam Istana Merdeka mendekati Gibran Rakabuming serta Bobby Nasution ingin mencalonkan sebagai Wali Daerah Perkotaan Solo lalu Wali Pusat Kota Medan. Saat itu, beliau menyatakan terhadap Jokowi sekaligus untuk menguji keseriusannya di dalam di mencalonkan anak lalu menantunya.
“Pak Presiden, apakah betul Bapak mau mencalonkan Mas Gibran serta Mas Bobby sebagai wali kota? Loh kenapa Pak Sekjen? Karena ketika Mas Gibran serta Mas Bobby sebagai wali kota, maka otomatis beliau menjadi pejabat negara. Dan ini akan sangat rawan terhadap berbagai bentuk gratifikasi suap kemudian berbagai tindakan korupsi lainnya. Presiden Jokowi sempat termenung pada waktu itu,” tuturnya.
Dari situlah, Hasto mengaku merasakan bahwa pertanyaannya sangat mengusik perhatian dari Jokowi. Sebab, ia menegaskan kembali terhadap Jokowi bahwa ketika Gibran juga Bobby menjadi wali kota, maka dengan mudah akan terkena operasi tangkap tangan dari KPK kemudian juga aparat penegak hukum yang tersebut lain.






