Bisnis

Kekuatan Perekonomian BRICS Capai 35% GDP Dunia, Bisakah Indonesia Ambil Manfaat?

JAKARTA – Indonesia secara resmi bergabung sebagai anggota ke-10 kelompok perekonomian BRICS , sebuah kelompok perekonomian negera mengalami perkembangan terdepan yang memegang peranan penting di perekonomian global yang anggota utamanya terdiri dari Brazil, Rusia, India, China, dan juga Afrika Selatan.

Bergabungnya Indonesia dengan BRICS diperkirakan akan memberikan sejumlah faedah bagi Indonesia di dalam bidang ekonomi, perdagangan, stabilitas mata uang, hingga diplomasi internasional.

Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Jose Antonio Morato Tavares menjelaskan, berbagai khasiat sekaligus tantangan yang digunakan dapat diraih Indonesia dari keanggotaan ini, khususnya di bidang perekonomian kemudian geopolitik. Menurutnya, BRICS menawarkan potensi besar untuk menguatkan perdagangan kemudian bursa Indonesia.

“Saat ini, 62% dari total produksi kelapa sawit Indonesia diimpor oleh negara-negara anggota BRICS. Dengan populasi BRICS yang mana mencapai 45% populasi dunia, sekitar 900 jt orang, keanggotaan ini memberikan akses bursa yang mana besar serta memperlancar perdagangan dalam antara anggotanya,” tutur Jose pada diskusi masyarakat bertajuk “BRICS: Menakar Langkah Indonesia” yang diselenggarakan Ikatan Alumni Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (IKAHI Unpad) di tempat Jakarta.

Jose juga menyoroti kekuatan sektor ekonomi BRICS yang tersebut mencapai 35% dari Layanan Domestik Bruto (GDP) dunia berdasarkan purchasing power parity (daya beli masyarakat), lebih besar tinggi dibandingkan G7 yang dimaksud hanya saja 30%. Meski demikian, beliau mengingatkan perlunya kewaspadaan menghadapi tantangan perekonomian global yang ketika ini lesu.

Dalam konteks geopolitik, Indonesia berpotensi menjadi jembatan penghubung antara BRICS dan juga Organisasi untuk Kerja Sama lalu Pembangunan Kondisi Keuangan (OECD), yang mana didominasi negara-negara Barat. Indonesia sudah pernah melamar menjadi anggota OECD pada 2024, tetapi keanggotaan yang disebutkan belum disetujui.

Dengan kebijakan pemerintah luar negeri yang mana bebas aktif, Indonesia menekankan bahwa faedah dari BRICS bersifat ekonomi, tanpa mengubah kedudukan politiknya. “Jembatan ini efektif lantaran sikap kebijakan pemerintah luar negeri kita yang mana bebas aktif,” ujar Jose.

Sementara, Asisten Deputi Stabilisasi Harga Kementerian Koordinator Pangan, Siradj Parwito, membantu langkah Indonesia bergabung ke BRICS. Dia menyampaikan New Development Bank (NDB), bank perkembangan milik BRICS—sebagai sumber alternatif pembiayaan untuk proyek-proyek pengerjaan Indonesia.

“Dana NDB dapat digunakan untuk mendanai proyek-proyek berisiko tinggi yang tersebut sulit menarik minat penanam modal swasta, seperti proyek energi geotermal. Kata kuncinya adalah bankable. Dengan pendanaan ini, proyek-proyek kita yang mana berisiko tinggi bisa jadi direstrukturisasi agar lebih banyak menarik bagi investor,” pungkasnya.

Related Articles

Back to top button