IHSG Terkapar 2% Lebih ke 6.800-an, Ini adalah Biang Keroknya

JAKARTA – Ukuran Harga Saham Gabungan ( IHSG ) terus mengalami tekanan di beberapa hari terakhir, hingga akhirnya tergelincir ke level 6800-an. Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata mengatakan, kejatuhan indeks didorong oleh kombinasi sentimen negatif dari bursa regional dan juga global, teristimewa pengaruh dari kebijakan tarif juga ketidakpastian kegiatan ekonomi dunia.
Salah satu faktor utama yang tersebut memengaruhi pergerakan IHSG adalah kebijakan tarif yang dimaksud diberlakukan oleh Presiden AS, Donald Trump terhadap Kanada, Meksiko, dan juga CHina. Namun, adanya penundaan penerapan tarif bagi Kanada serta Meksiko menyebabkan perkiraan terkait dampaknya terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
“Makro kita juga terpeleset dari asumsi tahun 2024. Laporan keuangan yang mana muncul, perbankan yang dimaksud sudah ada rilis kinerja juga performancenya agak kurang menggembirakan,” kata Liza pada Kamis (6/2/2025).
Liza menyampaikan, tekanan jual yang tersebut semakin kuat menyebabkan IHSG akhirnya bukan mampu bertahan pada level psikologis 7.000. Dengan kondisi ini, IHSG berpotensi menguji level terendah tahun lalu di area kisaran 6.700 hingga 6.650 apabila tekanan jual terus berlanjut.
“Overall kita masih mengalami naik turun sejak peak September serta masih akan berlanjut pelemahannya dikarenakan penembusan di hari ini,” ujar Liza.
Hari ini indeks ditutup jeblok 2,12 persen atau turun 148,69 poin ke level 6.875. Total ukuran saham yang tersebut diperdagangkan sebanyak 20,27 miliar saham dengan nilai proses mencapai Rp13,74 triliun, juga ditransaksikan sebanyak 1,43 jt kali. Adapun, sebanyak 428 saham harganya terkoreksi, 176 saham harganya naik dan juga 196 saham lainnya stagnan.
Sektor materi baku terkoreksi 2,43 persen, sektor keuangan turun 2,24 persen, sektor lapangan usaha turun 2,14 persen, sektor transportasi turun 1,99 persen, sektor properti turun 1,89 persen, sektor infrastruktur turun 1,39 persen, sektor energi turun 1,26 persen, sektor non siklikal turun 0,48 persen, sektor teknologi turun 0,05 persen juga sektor siklikal turun 0,02 persen. Sedangkan sektor kemampuan fisik menjadi satu-satunya sektor yang tersebut naik sebesar 1,13 persen.






