Mengukur Peran Transformasi Digital di Mengejar Pertumbuhan Kondisi Keuangan 8%

JAKARTA – Indonesia menunjukkan optimisme melalui prospek perubahan digital yang besar kendati menghadapi ketidakpastian lalu perlambatan sektor ekonomi global. Dalam 10 tahun terakhir, perkembangan ekonomi Indonesia stabil pada kisaran 5% meskipun dibayangi tantangan seperti tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang dimaksud berimbas pada efisiensi ekonomi.
Dengan pemerintahan baru yang digunakan menetapkan target perkembangan perekonomian hingga 8%, peran ekonomi digital menjadi kunci utama untuk mencapai ambisi tersebut. Asisten Deputi Pembangunan Digital Kementerian Koordinator Sektor Perekonomian (Kemenko Perekonomian) Theodore Sutarto menjelaskan, bahwa ketika ini kondisi Indonesia, bahkan dunia sedang tak baik-baik belaka dan juga berpengaruh pada Indonesia.
Selain ada konflik perang, ada inovasi pemerintahan Amerika Serikat (AS) yang mana baru kemudian patut diwaspadai sebab masa depan masih buram. Di sisi lain, Theodore mengimbau agar negara-negara lain khususnya Indonesia, harus tetap saja waspada terhadap kebijakan pemerintaha baru Negeri Paman Sam yang dimaksud sanggup berdampak pada perekonomian global.
Theodore juga menilai bahwa sebenarnya peningkatan konsumsi pada negeri yang tersebut 5 – 6% telah baik kemudian target pemerintah untuk berusaha mencapai perkembangan kegiatan ekonomi sebanyak 8% didukung dengan baik oleh pihaknya.
“Kita akan menggenjot (pertumbuhan ekonomi) dari sisi investasi. Jadi diharapkan nanti ada peningkatan penanaman modal sebesar 10% sehingga mampu mengejar peningkatan 8% itu. Juga ada peningkatan ekspor dalam kisaran 9%,” ucap Theodore pada Economic & Business Outlook 2025: Kontribusi kemudian Kans Perekonomian Digital Indonesia Menuju Pertumbuhan 8% dalam Era Pemerintahan Baru di area Jakarta, Kamis (19/12/2024).
Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pihaknya menyampaikan bahwa akan meningkatkan kekuatan peningkatan sektor ekonomi melalui penguatan manufaktur. “Jadi bukan hanya sekali proses lanjut yang tersebut memang benar sudah ada ada, juga ada penguatan manufaktur, sektor jasa, pariwisata, juga konstruksi, perumahan lalu kegiatan ekonomi digital,” kata dia.
Kendati demikian, ia mengaku bahwa dalam pemerintahan belum ada suatu konsensus terkait pendekatan di area bidang perekonomian digital juga kontribusinya pada PDB. Namun, pihaknya mengungkapkan akan mengunakan pendekatan input output.
“Semua aktivitas kegiatan ekonomi yang dapat intervensi input digital baik data, atau teknologi digital lainnya dihitung sebagai aktivitas digital,” paparnya.
Sementara itu Direktur Perekonomian Digital Kementerian Komunikasi juga Digital (Komdigi), Bonifasius menyampaikan bahwa pada waktu ini Indonesia berada di tempat jalur perubahan fundamental besar menuju cita-cita 2045. Salah satu prasyarat pada mewujudkan visi yang disebutkan yakni peningkatan perekonomian harus konsisten di area nomor sekitar 8%.






