Bisnis

Peneliti mengkhawatirkan bidang baja pada negeri seperti tekstil

DKI Jakarta – Peneliti dari The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyatakan kekhawatirannya banjir baja impor dari China pada waktu ini dapat menghancurkan bidang baja pada negeri.

"Jangan sampai sektor baja kita pada akhirnya bernasib seperti sektor tekstil pada hari ini. Di mana memang benar sangat sulit untuk memproduksi, dikarenakan telah terkena gempuran impor yang digunakan cukup besar,” kata Kepala Pusat Industri, Perdagangan serta Pengembangan Usaha pada Indef Andry Satrio Nugroho, pada Jakarta, Senin.

Untuk itu, katanya lagi, pemerintah diharapkan melindungi lapangan usaha baja di negeri agar tiada bernasib seperti bidang tekstil, yang mana hancur sebab serbuan hasil impor.

Dia menyatakan menurunnya lapangan usaha baja China pada pada negeri akibat anjloknya permintaan domestik, membuka prospek negara yang dimaksud untuk memperluas ekspor ke beragam negara, salah satunya Tanah Air dengan nilai tukar sangat diskon (dumping).

"Karena over supply tentu mereka itu akan mengarahkan atau mengekspor produksinya ke luar negara. Salah satu market yang digunakan cukup potensial untuk dipenetrasi adalah Indonesia," katanya pula.

Oleh dikarenakan itu, menurut dia, proteksi pemerintah terhadap baja di negeri sangat dibutuhkan, kalau tidak, bidang baja ke negeri ini dapat gulung tikar akibat gempuran baja impor.

Negara-negara lain, katanya pula, sudah ada mengambil langkah-langkah protektif untuk melindungi lapangan usaha baja pada negeri seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, kemudian Kanada yang dimaksud telah terjadi menerapkan Bea Masuk Antidumping (BMAD) lalu tarif besar terhadap item baja China.

"Banyak sekali instrumen-instrumen trade remedies yang digunakan diberikan di beraneka negara. Sedangkan Tanah Air masih sangat sedikit perlindungannya," katanya lagi.

Menurut dia, eksekutif Indonesi diperlukan melakukan hal yang dimaksud sama, seperti di bentuk safeguard atau pada bentuk pengenaan Bea Masuk Antidumping (BMAD).

"Dan juga, kita sanggup dorong terkait dengan sertifikasi lainnya," ujar Andry melalui sambungan telepon.

Andry mengingatkan, apabila banjir baja impor dibiarkan, tidaklah cuma menyebabkan lapangan usaha baja pada negeri gulung tikar sekaligus ancaman PHK massal, namun sektor bidang usaha lain juga akan terimbas seperti para distributor baja dan juga lapangan usaha lain yang terkait.

Perlindungan pemerintah terhadap sektor baja, katanya lagi, akan berdampak positif pada iklim investasi. Jika sektor dapat meningkat diharapkan pertumbuhan kegiatan ekonomi ke depan juga dapat meningkat.

"Dengan pemeliharaan bursa dalam pada negeri, utilisasi produksi sanggup meningkat. Ini adalah bisa saja memberikan gairah terhadap penanam modal untuk masuk. Pemodal akan merasa bahwa selain bursa di negeri cukup besar, juga dari sisi kompetisi cukup baik. Jadi itu yang tersebut kita harapkan di Pemerintahan yang tersebut baru," kata dia.

Presiden Direktur PT Gunung Raja Paksi (GRP) Fedaus menambahkan, bidang baja tanah air berharap proteksi dari pemerintah, apalagi sektor ini merupakan tulang punggung pembangunan.

"Pemerintah harus benar-benar penting melindungi dengan beberapa penerapan trade remidies," katanya.

Dia mengkaji rute sunset review/perpanjangan untuk antidumping sangat lama, sehingga dikhawatirkan bidang baja akan mengalami kehancuran sebanding seperti sektor tekstil.

Artikel ini disadur dari Peneliti mengkhawatirkan industri baja dalam negeri seperti tekstil

Related Articles

Back to top button